Kamis, 30 April 2020

WAWANCARA Dan REPORTASE VIA VLOG (Tehnik Wawancara dan Reportase)

WAWANCARA Dan REPORTASE VIA VLOG.
Institut Agama Islam Negeri Kudus - Komunikasi Penyiaran Islam.


Sumber : pexcels.com

     Menurut Lexy J. Moleong Wawancara adalah percakapan dengan tujuan tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (yang mengajukan pertanyaan) dan diwawancarai (yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu).
Sutrisno Hadi ( 1989:192 ) Wawancara adalah proses pembekalan verbal, di mana dua orang atau lebih untuk menangani secara fisik, orang dapat melihat mukayang orang lain dan mendengarkan suara telinganya sendiri, ternyata informasi langsung alatpemgumpulan pada beberapa jenis data sosial, baik yang tersembunyi (laten) atau manifest.
Jadi Wawancara adalah tanya jawab antara dua pihak yaitu pewawancara dan narasumber untuk memperoleh data, keterangan atau pendapat tentang suatu hal.
  1. Pewawancara adalah orang yang mengajukan pertanyaan.
  2. Narasumber adalah orang yang memberikan jawaban atau pendapat atas pertanyaan pewawancara.
  3. Narasumber juga biasa disebut dengan informan.
  4. Orang yang bisa dijadikan sebagai narasumber adalah orang yang ahli di bidang yang berkaitan dengan imformasi yang kita cari.

     Ensiklo mendefinisikan reportase sebagai berikut: reportase adalah aktivitas atau kegiatan dari reporter/jurnalis untuk turun ke lapangan melakukan observasi langsung dan tidak langsung, mengumpulkan fakta-fakta dan data mengenai sebuahperistiwa/isu yang sedang terjadi, lalu merangkainya menjadi sebuah bahan laporan/tulisan.
Reportase adalah pemberitaan yang disajikan dengan paparan lengkap (interpretatif) tentang suatu fakta dari peristiwa yang dilihat langsung. Dalam pengertian yang lain, reportase dapat juga diartikan sebagai pemberitaan hasil penyelidikan (investigasi) setelah sebelumnya dilakukan pengkajian seluruh fakta yang dilengkapi dengan latar belakang terjadinya peristiwa itu.
     Selanjutnya yaitu vlog, Vlog mulai muncul pada tahun 2000, waktu itu seorang pemuda bernama Adam Kontras merekam video saat-saat teman dan keluarganya pindah ke wilayah Los Angeles untuk memenuhi panggilan Show Business kala itu. Vlog adalah catatan pribadi dalam bentuk video yang diperbarui dan didistribusikan secara umum. Lebih lengkapnya, Vlog ini termasuk suatu bentuk kegiatan blogging dengan menggunakan medium video di atas sumber media utamanya yakni penggunaan teks atau audio.
V Berbicara tujuan, sebetulnya bisa berbeda-beda, ada yang bertujuan untuk sekedar sharing, berbagi informasi, dan bahkan getting revenue atau mendapatkan penghasilan dengan menjadikannya sebagai ladang bisnis atau pekerjaan.
peluang keuntungan finansial yang bisa didapatkan dari Vlogging diantaranya adalah:
  •     Pasang Google Adsense.
  •     Endorsement.
  •     Promosi.
  •     Pemasangan Iklan.
  •     Kerjasama dengan Pihak ketiga.
  •     Dll.

Agar bisa menjadi seorang Vlogger, caranya tidaklah rumit. Yang penting ada kemauan dulu dan sedikit kemampuan tentang internet dan editing video. Dengan kamera hp saja, anda sudah bisa menjadi vlogger. Agar hasilnya lebih baik dan menarik, maka pelajari cara editing video. Bahkan kalau anda benar-benar mau terjun ke dunia ini, anda bisa melengkapi dengan peralatan-peralatan lain yang spesifikasinya lebih bagus untuk menghasilkan video yang berkualitas.




TEHNIK WAWANCARA DAN REPORTASE
Dosen : Primi, S.Sos, M.S.I
Penulis : Refo Zunaedi (1840210019)
Senin, 30 Maret 2020/KPI-A4/jam ke 3/F1

Rabu, 29 April 2020

WAWANCARA DAN REPORTASE TUNDA DI TELEVISI (Tehnik wawancara dan reportase)

WAWANCARA Dan REPORTASE TUNDA di TELEVISI.
Institut Agama Islam Negeri Kudus - Komunikasi Penyiaran Islam.


Https://smartstore.oomph.co.id

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu.
     Semoga kita semua terjaga kesehatannya, okay teman-teman kini saya akan membahas mengenai wawancara dan reportase tunda di televisi. Yaitu mulai dari pengertian sampai fungsi, baik mari kita mulai pembahasannya.

Pengertian Wawancara.
     Menurut Asep Syamsul, wawancara merupakan salah satu metode pengumpulan bahan berita (data atau fakta). Proses wawancara dapat dilakukan dengan dua cara, yakni secara langsung (face to face) atau secara tidak langsung.
Dalam televisi ataupun radio banyak sekali kita jumpai acara yang berbentuk wawancara. Dalam melakukan wawancara, dibutuhkan seorang pewawancara yang dapat memposisikan dirinya untuk mewakili khalayak. Hal ini berarti, daftar pertanyaan tersebut yang diajukan kepada sumber berita dapat memancing jawaban, dimana jawaban tersebut merupakan informasi yang bener-benar tepat dan bersumber dari masyarakat sendiri.
Fungsi Wawancaran.
     Dalam sebuah proses wawancara tentu ada yang mewawancarai dan ada pula yang diwawancarai. Karena dalam proses tersebut bertujuan untuk menanyakan hal-hal yang membutuhkan informasi yang benar dan tepat.

Pengertian Reportase.
     peliputan berita juga dapat dilakukan dengan reportase. Reportase adalah kegiatan jurnalistik berupa meliput langsung ke lapangan, ke “TKP” (tempat kejadian perkara). Jadi seorang wartawan harus terjun langsung ke tempat terjadinya suatu perkara untuk mencari fakta dan mengumpulkan data mengenai peristiwa yang terjadi.
Dalam buku Jurnalisme Penyiaran dan Reportase Televisi, Fajar Junaedi menyebutkan bahwa Reportase adalah kegiatan meliput berita dari narasumber, kemudian ditulis dalam naskah berita atau dilaporkan kepada pemirsa.
     Dalam hal ini, fakta dan data yang dikumpulkan harus memenuhi unsur-unsur berita, yakni 5W+1H. Kemudian peristiwa tersebut juga bernilai jurnalistik atau bernilai berita, yakni aktual, faktual, penting, dan menarik.
     Reportase bersifat sistematis dan kronologis. Sebelum melakukan reportase, tentu terdapat naskah yang harus disiapkan. Naskah tersebut berisi hal-hal penting yang nantinya akan disampaikan untuk melaporkan berita, dan reporter perlu mempersiapkan diri serta mencari bahan-bahan reportase yang berkaitan  Dalam melaporkannya, reporter tinggal mengombinasikan peristiwa yang terjadi dengan referensi yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Fungsi Reportase.
     Dari beberapa definisi reportase dan teknik reportase yang penulis temukan dari beberapa referensi buku, penulis menemukan beberapa fungsi yang dirangkum sebagai berikut :
1. Sebagai sumber berita.
     Reportase dapat berfungsi sebagai sumber berita bagi khalayak. Karena dilihat dari definisinya sendiri sudah jelas bahwa reportase ini melporkan kejadian langsung dari tempat kejadian perakara yang nantinya akan disiarkan secara langsung atau siaran tunda. Dengan reportase, khalayak dapat menyaksikan secara jelas dari tempat kejadian langsung meskipun hanya melalui media. Menjelaskan dan melaporkan apa yang dilihat dan apa yang terjadi dilokasi kejadian
Sebagaimana definisi dalam penjelasan pada poin sebelumnya bahwa reportase merupakan melaporkan berita langsung dari tempat kejadian. Maka reportase ini berfungsi menjelaskan sekaligus melaporkan kepada khalayak terkait peristiwa ataupun acara yang berlangsung di suatu tempat.
2. Segi Definisi.
     Reportase merupakan pelaporan peristiwa atau acara yang dilaporkan secara langsung dari tempat kejadian peristiwa. Reportase dapat disiarkan dengan siaran langsung maupun tunda. Sedangkan berita merupakan uraian tentang peristiwa dan atau pendapat yang mengandung nilai berita, dan sudah disajikan melalui media massa periodik.
3. Segi Fungsi.
     Reportase berfungsi menjelaskan atau melaporkan apa yang dilihat dilokasi kejadian, sedangkan berita berfungsi menginformasikan fakta yang timbul sebagai akibat adanya suatu peristiwa dan atau pendapat.
Siaran tunda yaitu kebalikannya dari siaran langsung. Jika siaran langsung dapat dilihat dan disaksikan secara langsung, pada siaran tund, hasil reportase tidak disiarkan secara langsung kepada khalayak, tetapi direkam dulu dalam pita tape. Dan nantinya akan disiarkan sesuai waktu yang sudah direncanakan. Dengan demikian, kesalahan-kesalahan yang terjadi pada reporter ataupun kesalahan yang lain akan diperbaiki, sehingga dapat ditayangkan dengan maksimal.

Mungkin hanya sedikit materi yang saya sampaikan tentang wawancara dan reportase tunda di televisi, sekian dan terimakasih 😊


mu'alaikum warahmatullahi wabarokatu.





TEHNIK WAWANCARA DAN REPORTASE
Dosen : Primi rohimi, S.Sos, M.S.I
Penulis : Refo Zunaedi (1840210019)
Senin, 23 Maret 2020/KPI-A4/jam ke-3/F1

Selasa, 28 April 2020

WAWANCARA DAN REPORTASE TUNDA DI RADIO (Tehnik wawancara dan reportase)

WAWANCARA dan REPORTASE TUNDA di RADIO.
Institut Agama Islam Negeri Kudus - Komunikasi Penyiaran Islam.


https://jurnalismuda98.wodpress.com


     Baik untuk kali ini kita akan membahas tentang Wawancara dan reportase tunda di radio, Langsung saja wawancara merupakan bentuk reportase  dengan cara mengumpulkan data berupa pendapat, pandangan, dan pengamatan seseorang tentang suatu peristiwa. Sedangkan  Reportase adalah suatu laporan yang dilakukan oleh reporter atau wartawan mengenai suatu peristiwa yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri (on location). Reportase melaporkan suatu kejadian, tapi baru disiarkan kemudian, dan kalau perlu sesudah disusun kembali (delayed broadcast, after event broadcast) atau disiarkan setelah disunting kembali (re-edit) sekaligus ditambah dengan efek suara (sound effect).

     Sedangkan Reportase Tunda,  atau istilah lain laporan kemudian (tidak lazim dipergunakan, tapi sering disebut  pada saat akan terjun ke lokasi peliputan) juga merupakan salah satu bentuk reportase dan bagian dari pengembangan berita. Unsur-unsurnya adalah penggunaan kalimat bebas, penundaan waktu siaran dengan tetap memerhatikan aktualitas berita, dan hanya melibatkan seorang reporter.
Tahapan membuat Laporan Langsung/Tunda diacara radio :

I.     Persiapan.

II.    Penentuan judul.
   1. Bahan Penunjang.
       a.    Hasil wawancara.
       b.    Pidato/sambutan.
       c.    Penjelasan/keterangan.
       d.    Sound effect.
   2.    Bahan Dokumentasi.
       a.    referensi,brosur,naskah.
       b.    Rekaman suara.

III.   Pelaksanaan.
   1.    Menyusun Naskah.
       a.    Obyek.
              Tulis satu kalimat pendek yang ingin diucapkan. Satu kalimat kurang lebih 15
 perkataan biasanya   menuangkan 1 – 2 ide/gagasan.
       b.    Daya Tarik Perhatian (Ear Catcher/Eye Catcher).
               -  kalimat pertama harus selalu kalimat pendek.
               - kalimat pertama berbentuk pertanyaan yang menarik atau statement yang menentang.
       c.    Pengarahan Satu/dua kalimat yang membantu audience mulai berfikir pada hal-hal yang ada dalam pikiran kita.
       d.    Pesan cerita.
               -   terbesar materi naskah merupakan cerita.
               -  persoalan yang dikemukakan harus jelas.
               -  menarik minat pendengar/penonton.
       e.    Penutup.
               - Kalimat pendek.
               -  Pesan dengan kata terbatas.
               -  Pilih kata-kata yang tidak mudah dilupakan.
               -  Gagasan yang dituangkan adalah yang baik.

    2.    Sistem Piramida terbalik  (Sistem Blok)
    3.    Bahan materi dirangkaikan dalam suatu kalimat, bebas, padat, singkat dan jelas
    4.    Penyesuaian/editing antara materi naskah dengan materi rekaman suara
    5.    Naskah siap dibaca
    6.    waktu seefisien mungkin.

Mungkin hanya itu yang bisa saya masukkan dalam materi wawancara dan reportase tunda di radio, terimakasih 😁🙏





TEHNIK WAWANCARA DAN REPORTASE
Dosen : Primi rohimi, S.Sos, M.S.I.
Penulis : Refo Zunaedi (1840210019)
Senin16 Maret 2020/KPI-A4/jam ke-3/F1

Senin, 27 April 2020

WAWANCARA Dan LIPUTAN Di MEDIA CETAK. ( Tehnik Wawancara dan Reportase )

WAWANCARA Dan LIPUTAN di MEDIA CETAK.
Institut Agama Islam Negeri Kudus - Komunikasi Penyiaran Islam.


Https://www.24hdansuneredaction.com

A. Teknik Wawancara Berita.

     Wawancara media cetak adalah tanya jawab antara reporter media cetak dengan narasumber dengan tujuan untuk mendapatkan penjelasan atau keterangan dari narasumber tersebut.
     Wawancara dilakukan guna mendapatkan kejelasan fakta (misalnya dari pihak berwenang) tentang suatu kejadian. Wawancara juga dibutuhkan guna mendapatkan kesaksian dari pihak-pihak yang terlibat dalam suatu peristiwa misalnya saksi mata, korban, pelaku, dan sebagainya. Selain itu, bila diperlukan tanggapan dari pihak yang ahli.
Adapun teknik wawancara bisa dikelompokkan menjadi dua (2) bagian.
  1. Teknik verbal yang betul-betul memerlukan alat bantu hard ware  yang diperlukan.
  2. Teknik substansial – teknik yang terkait dengan kemampuan jurnalis dari segi ketajaman nuraninya dalam menentukan pilihan tema, tempat dan saat yang tepat bagi berlangsungnya sebuah wawancara. Disini perlu adanya ketajaman analisis sosial.
Itulah pentingnya seorang Wartawan menguasai materi yang hendak diwawancarakannya terhadap narasumber. Hanya dengan cara seperti itu, ia mampu memperoleh informasi banyak dan akurat serta signifikan.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai persiapan wawancara, yaitu:
  1. Melakukan riset sebelum wawancara dilakukan.
  2. Usahakan menyusun pertanyaan dengan baik.
  3. Harus ada persiapan jika pertanyaan dijawab tidak sesuai harapan.
  4. Berani mengambil keputusan.

Tidak semua berita layak untuk dipublikasikan, berikut kriteria layak berita:
Timeliness dan immediacy, Proximity, conflict, Eminence and Prominence, Consequence and Impact, Human interest.

B. Teknik Peliputan Berita.

     Dalam pencarian berita, seorang wartawan atau reporter memperoleh bahan baerita melalui liputan atau mencari tahu secara langsung ke lapangan. Menurut AS Haris Sumadiria (2006:94), berita yang baik adalah hasil perencanaan yang baik.
Jadi, meliput berita dapat dilakukan setelah melewati proses perencanaan dalam rapat proyeksi redaksi, misalnya dalam rapat redaksi itu diputuskan untuk memuat kasus pembunuhan melibatkan penjabat negara. Maka wartawan akan melakukan wawancara dengan penjabat yang bersangkutan. Selama wartawan melakukan kegiatan wawancara dengan narasumber, maka kegiatan tersebut dinamakan mencari berita (news hunting).

Terdapat tiga teknik peliputan berita, diantaranya:
  1. Reportase (pencarian), wartawan mendatangi lokasi peristiwa atau kejadian.
  2. Wawancara, sebelum melakukan wawancara wawancara dengan narasumber.
  3. Riset kepustakaan dan kantor berita. Untuk memperdalam isi berita, wartawan dapat mencari kelengkapan berita dari riset kepustakaan dan kantor berita.

Teknik peliputan ini ditentukan setelah adanya rapat proyeksi. Dalam rapat ini, para redaktur akan memberi penugaran kepada wartawan untuk mencari, menggali, dan mendapatkan informasi dari narsumber. Selain itu, tidak ada penugasan (lepas), ini merupakan teknik peliputan dari inisiatif wartawan sendiri dalam mencari, memburu dan mengolah berita.




TEKNIK WAWANCARA DAN REPORTASE
Dosen : Primi rohimi, S.Sos, M.S.I.
Penulis : Refo Zunaedi (1840210019)
Senin, 09 Maret 2020/KPI-A4/jam ke-3/F1















Sabtu, 25 April 2020

WAWANCARA DAN REPORTASE DALAM BERBAGAI KONTEKS (Tehnik Wawancara dan Reportase)

WAWANCARA DAN REPORTASE DALAM BERBAGAI KONTEKS.
Institut Agama Islam Negeri Kudus - Komunikasi Penyiaran Islam.

https://2.bp.blogspot.com

A. Wawancara.

     Steward & Cash (1982) mendefinisikan wawancara sebagai sebuah proses komunikasi interpersonal, dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, bersifat serius, yang dirancang agar tercipta interaksi yang melibatkan aktivitas bertanya dan menjawab pertanyaan.
Wawancara dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya.

  1. Live interview, Interview ini dilakukan di studio dengan mengundang orang yang akan di wawancarai.
  2. Interview by appointment, Pewawancara melakukan wawancara di kediaman orang yang diwawancarai.
  3. Press conferences/press briefieng, Wawancara ini dilakukan pada saaat berlangsungnya suatu konferensi pers.
     Singh (2002) menuliskan bahwa terdapat dua macam wawancara yaitu wawancara formal dan informal. Wawancara formal atau disebut juga wawancara terstruktur adalah sebuah prosedur sistematis untuk menggali informasi mengenai responden dengan kondisi dimana satu set pertanyaan ditanyakan dengan urutan yang telah disiapkan oleh pewawancara dan jawabannya direkam dalam bentuk yang terstandardisasi.
Wawancara informal adalah sebuah wawancara dimana tidak dipersiapkan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan, tidak ada persiapan urutan pertanyaan, dan pewawancara yang berkuasa penuh untuk menentukan pertanyaan sesuai dengan poin-poin utama. (Singh, 2002)

B.Reportase.

1. Reportase terencana.
     Merupakan proses reportase menyangkut hal-hal yang telah ditentukan sebelumnya, dalam peliputan ini fakta, peristiwa, dan data bisa diperoleh lebih lengkap dan  akurat.
Reportase terencana lebih mudah tetapi penuh dengan tantangan. Karena ssudah terduga dan terencana, maka fakta peristiwa dan data dapat diperoleh lebih lengkap dan akurat. Reportase ini dapat berupa siaran news, seperti: siaran langsung, debat public, feature, investigasi.

2. Reportase tidak terencana.
     Merupakan proses reportase menyangkut hal-hal yang tidak terduga atau belum direncanakan sebelumnya. Seperti kecelakaan lalu lintas, bencana alam, dan kejadian tidak terduga lainnya. Reportase tidak terencana juga bisa merupakan penugasan mendadak dari redaksi, sehingga mau tidak mau seorang reporter harus terjun langsung kelapangan.
     Dalam konteks wawancara dan repostase bencana, media massa memiliki peran dalam konteks penebritaan pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Jurnalis yang menjadi ujung tombak media massa di lokasi bencana menjadi aktor penting dalam tiga konteks pemberitaan bencana ini.
  • Saat pra bencana, jurnalis yang terjun ke lokasi bencana bertanggung jawab untuk memberikan informasi terkini yang akurat kepada masyarakat  di sekitar lokasi bencana yang memiliki potensi terdapat bencana.
  • Produksi, Sedangkan saat bencana terjadi, jurnalis harus mampu memberikan informasi yang valid mengenai lokasi bencana, jumlah korban, potensi bencana susulan, area yang bisa menjadi jalur dan tempat evakuasi, sehingga dapat berdampak langsung maupun tidak langsung.
  • Pasca bencana, jurnalis harus mampu memberikan informasi yang menunjang program pemulihan bagi korban yang terdampak bencana.

Daftar Pustaka.
Hastuti, Nur, Rochimah, Tri dan Junaedi  Fajar. 2014. Peliputan dan Reportase Televisi di Lokasi Bencana: Sebuah Pengalaman dari Merapi 2010. Vol.4 No.1.

Nul, Hakim, Lukman. 2013. Ulasan Metode Kualitatif: Wawancara Terhadap Elit. Vol.4 No.2.



TEKNIK WAWANCARA DAN REPORTASE.
Dosen : Primi rohimi, S.Sos, M.S.I
Penulis : Refo Zunaedi (1840210019)
Senin, 02 Maret 2020/KPI-A4/Jam ke-3/F6.

JENIS-JENIS WAWANCARA (Tehnik Wawancara dan Reportase)

JENIS-JENIS WAWANCARA.
Institut Agama Islam Negeri Kudus-Komunikasi Penyiaran Islam.


Image : pakdosen.co.id

Disini kita akan belajar mengenai jenis-jenis wawancara, dari segi pelaksanaannya wawancara dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
  1. Wawancara bebas. Dalam wawancara bebas menyakan apa saja kepada narasumber tetapi sesuai dengan topik pembahasan, apabila pertanyaan tidak dibatasi terkadang arah pertanyaan tidak terkendali.
  2. Wawancara terpimpin. Dalam wawancara ini sudah mempunyai bekal pertanyaan yang lengkap dan terinci.
  3. Wawancara bebas terpimpin. Dalam wawancara bebas terpimpin mengombinasikan wawancara bebas dengan terpimpin yang pelaksanaannya sudah membawa bekal tentang apa yang dipertanyakan secara garis besar.
Sedangkan menurut floydg. Arpan dalam toward better communication berdasarkan bentuknya terdapat tujuh jenis wawancara yaitu:
  1. Wawancara sosok pribadi.
  2. Wawancara berita.
  3. Wawancara jalanan.
  4. Wawancara sambil lalu.
  5. Wawancara telepon.
  6. Wawancara tertulis.
  7. Wawancara kelompok.
Wawancara berdasarkan cara pelaksanaannya dibagi dua yaitu:
  1. Wawancara berstruktur, wawancara yang dilakukan terencana yang berbekal pada daftar pertanyaan yang telah disisipkan sebelumnya.
  2. Wawancara tak berstruktur, wawancara yang dilakukan dengan tidak adanya bekal daftar pertanyaan.
Trdapat empat jenis reportase diantara
  1. Reportase factual. Reportase faktual hanya mengumpulkan fakta yang tampak atau kongkrit saja, dikarenakan reprtase faktual bersifat menjelajahi lebih mendalam lagi tentang informasi.
  2.  Reportase mendalam.
    Wawancara mengambil informasi dengan fakta mengenai peristiwa itu sendiri sebagai informasi tambahan jenis reportase ini memerlukan pengalihan informasi bukan opini reporter.
  3. Reportase kompeherensif.
    Reportase ini bersifat mampu menangkap dengan baik dan lengkap serta luas.
  4. Reportase Investigasi, reportase ini adalah laporan yang biasanya memusatkan pada sejumlah masalah.


Daftar pustaka :
Junaedi, fajar. 2013. Jurnalisme penyiaran dan reportase televisi. Jakarta:kencana.



Tehnik Wawancara dan Reportase
Dosen : Primi rohimi, S.Sos, M.S.I
Penulis : Refo Zunaedi (1840210019)
Senin, 24 Februari 2020/KPI-A4/jam ke-3/F6

Kamis, 23 April 2020

KOMUNIKASI MASSA

MODEL KOMUNIKASI MASSA.
 Institut Agama Islam Negeri Kudus - Komunikasi Penyiaran Islam.


Image : Stopsnap.oi

Pengertian Model Komunikasi.

          Model adalah representasi fenomena, baik nyata maupun abstrak dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting dari fenomena tersebut. Model komunikasi dimaksudkan untuk mempermudah dalam menjelaskan fenomena komunikasi. Di samping untuk menjelaskan, model komunikasi juga dimaksudkan mereduksi fenomena komunikasi. Ada 6 model dasar komunikasi masa yang akan kami sampaikan dalam video ini yaitu :

  1. Model Aristoteles. Model Aristoteles sering dinamakan model retoris. Model ini dianggap sebagai model komunikasi paling klasik. Menurut Aristoteles, komunikasi terjadi ketika seorang pembicara menyampaikan pembicaraannya kepada khalayak dalam upaya mengubah sikap mereka. Unsur dasar dari proses komunikasi adalah pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar (listener). Aristoteles banyak menelaah proses komunikasi dalam bentuk retorika melalui pidato. Model ini juga dianggap sangat sederhana karena tidak memperhatikan unsur-unsur komunikasi yang lain, termasuk penggunaan sistem non-verbal.
  2. Model S – R Model Stimulius – Respons. Model ini dipengaruhi oleh aliran behavioristik dan menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses “aksi – reaksi” yang sangat sederhana. Proses komunikasi yang digambarkan dalam model ini sebagai pertukaran atau pemindahan gagasan, model ini dapat bersifat timbal balik dan mempunyai banyak efek. Setiap efek dapat mengubah tindakan komunikasi berikutnya.
  3. Formula Lasswell. Lasswell menyatakan bahwa cara terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah menjawab pertanyaan : Who says what in what channel to whom with what effect (Siapa mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa). Jawaban bagi pertanyaan paradigmatik Lasswell tersebut merupakan unsur-unsur proses komunikasi yaitu komunikator, pesan, media, komunikan/penerima, dan efek.
  4. Model Shannon dan Weaver. Model ini sering juga disebut sebagai model matematis atau model teori informasi. Model ini menyoal problem penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Model matematika komunikasi menggambarkan sumber informasi menghasilkan pesan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Dalam percakapan, sumber informasi ini adalah otak, transmitternya adalah mekanisme suara yang menghasilkan sinyal (kata-kata terucapkan), yang ditransmisikan lewat udara (sebagai saluran). Penerima (receiver) yakni mekanisme pendengaran, melakukan operasi yang sebaliknya yang dilakukan trsansmitter dengan mengkonstruksi pesan dari sinyal. Sasaran (destination) adalah (otak) orang yang menjadi tujuan pesan itu.
  5. Model Kultivasi. Teori ini memprediksikan dan menjelaskan formasi dan pembentukan jangka panjang dari persepsi, pemahaman, dan keyakinan mengenai dunia sebagai akibat dari konsumsi pesan-pesan yang disampaikan media massa. Pesan-pesan yang diproduksi secara massal oleh televisi dan kesan-kesan yang ditimbulkan dapat membentuk arus utama dari lingkungan simbolis umum yang dapat mempengaruhi penontonnya. Menurut teori kultivasi, media, khususnya televisi, merupakan sarana utama proses belajar tentang masyarakat dan budaya. Teori kultivasi menjelaskan bahwa televisi dan media massa lainnya, mengkultivasi keyakinan tertentu mengenai kenyataan yang dianggap sebagai sesuatu yang umum oleh audience media massa. Media memenuhi keingintahuan manusia akan hal-hal yang sebetulnya tidak pernah dialami sendiri secara pribadi.
  6. Model Teori Dependensi. Teori dependensi mempelajari kondisi struktur masyarakat yang cenderung mengatur efek media massa. Gagasan utama teori dependensi merujuk pada asumsi bahwa media massa dapat dianggap sebagai sistem informasi yang berperan penting dalam proses pemeliharaan, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat, kelompok atau individu dalam aktivitas sosial. 





KOMUNIKASI MASSA
Dosen : Primi rohimi, S.Sos, M.S.I.
Penulis : Refo Zunaedi (1840210019)
Senin, 28 Maret 2020/KPI-A4/Jam ke-1/F1

Rabu, 22 April 2020

KOMUNIKASI MASSA

SEJARAH DAN FUNGSI KOMUNIKASI MASSA.
Institut Agama Islam Negeri Kudus - Komunikasi Penyiaran Islam. 



Image : Ilmubahasa.net



A. Sejarah Perkembangan Komunikasi
    
     Massa Komunikasi massa yang menggunakan media massa telah mengalami sejarah perkembangan yang sangat panjang. Secara singkat, sejarah perkembangan komunikasi massa dapat diuraikan dalam beberapa tahapan, yakni:
  1. Era penggunaan isyarat dan lambang. Era ini ditandai dengan interaksi manusia yang sangat sederhana. Lambang dan tanda yang digunakan dalam berkomunikasi sangat sederhana, misalnya melalui bunyi atau gerakan-gerakan tertentu. Pada era ini belum ada penggunaan bahasa. Komunikasi dilakukan dengan menggunakan gerakan tangan, volume suara, dan tanda-tanda lain.
  2. Era berbicara dan penggunaan bahasa. Era ini berlangsung sekitar 300.000 s.d. 200.000 SM yang merupakan cikal-bakal kemampuan manusia dalam berbicara dan berbahasa. Pada era ini mulai dilakukan ujaran yang masih sangat sederhana.
  3. Era media tulisan. Era ini berlangsung sekitar 5000 SM. Pada era ini mulai mengenal media tulisan, terutama di Cina, Mesir, Mesopotamia. Sistem komunikasi yang diterapkan masih sederhana. Volume pesan yang dipertukarkan teratur dalam jumlah tertentu. Pengaturan pesan relatif tetap dan dalam jumlah besar. Dalam sistem pengawasan sosial, komunikasi tulisan dimaksudkan untuk mencatat peraturan, pelanggaran peraturan, dan pemberian sanksi.
  4. Era media cetakan. Mesin cetak diciptakan di Cina pada awal abad ke-15. Pada tahun 1455, terjadi penyempurnaan mesin cetak oleh Guttenberg di Jerman. Hal ini mendorong penemuan berikut, berupa pabrik kertas, mesin pemotong kertas, dll. Dalam perkembangan berikutnya, muncul buku, majalah, telepon, telegrap, radio, surat kabar, televisi, film, internet, VCD, DVD, dst.

B. Fungsi Komunikasi.

    Para ahli komunikasi massa telah membuat pemetaan yang beragam mengenai fungsi penting komunikasi massa dalam masyarakat modern. McQuail (1987) membedakan fungsi komunikasi massa bagi masyarakat dan fungsi komunikasi massa untuk individu, yakni:

1. Fungsi komunikasi massa bagi masyarakat:

     • Informasi.
  1. Menyediakan informasi tentang peristiwa dan kondisi dalam masyarakat dan dunia.
  2. Menunjukkan hubungan kekuasaan.
  3. Memudahkan inovasi, adaptasi, dan kemajuan.

     • Korelasi.
  1. Menjelaskan, menafsirkan, mengomentari makna peristiwa dan informasi.
  2. Menunjang otoritas dan norma-norma yang mapan. 
  3. Melakukan sosialisasi. 
  4. Mengkoordinasi beberapa kegiatan.
  5. Bentuk kesepakatan.
  6. Menentukan urutan prioritas dan memberikan status relatif.
      • Kesinambungan.
  1. Mengekspresikan budaya dominan dan mengakui keberadaan kebudayaan khusus (subculture) serta perkembangan budaya baru.
  2. Meningkatkan dan melestarikan nilai-nilai.
      • Hiburan.
  1. Menyediakan hiburan, pengalihan perhatian, dan sarana relaksasi.
  2. Meredakan ketegangan sosial.
      • Mobilisasi.
  1. Mengkampanyekan tujuan masyarakat dalam bidang politik, perang, pembangunan ekonomi, pekerjaan, dan kadang juga dalam bidang agama.
2. Fungsi komunikasi massa bagi individu.

    a. Informasi.
  • Mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan terdekat, masyarakat dan dunia.
  • Mencari bimbingan berbagai masalah praktis, pendapat, dan hal yang berkaitan dengan penentuan pilihan.
  • Memuaskan rasa ingin tahu dan minat umum.
  • Belajar, pendidikan diri sendiri.
  • Memperoleh rasa damai melalui penambahan pengetahuan.
     b. Identitas pribadi.
  • Menemukan penunjang nilai-nilai pribadi.
  • Menemukan model perilaku.
  • Mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media).
  • Tingkatkan pemahaman tentang diri-sendiri.
     c. Integrasi dan interaksi sosial.
  • Memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang lain; empati sosial.
  • Mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan meningkatkan rasa memiliki.
  • Menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial.  - Memperoleh teman selain dari manusia.
  • Bantu menjalankan peran sosial.
  • Memungkinkan seseorang untuk dapat menghubungkan sanak keluarga, teman, dan masyarakat.
      d. Hiburan.
  • Melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan.
  • Bersantai.
  • Peroleh kenikmatan jiwa dan estetis.
  • Mengisi waktu.
  • Penyaluran emosi.
  • Membangkitkan gairah seks.
Fungsi komunikasi massa menurut Katz, Gurevich, dan Haas:

  • Kebutuhan kognitif; memperoleh informasi, pengetahuan, dan pemahaman.
  • Kebutuhan afektif; menyangkut emosional, pengalaman menyenangkan, atau estetis.
  • Kebutuhan integratif personal; memperkuat kredibilitas, rasa percaya diri, stabilitas, dan status.
  • Kebutuhan integratif sosial. Memperoleh hubungan dengan keluarga, teman, dan sebagainya.
  • Kebutuhan pelepasan ketegangan; pelarian dan pengalihan.
Dari sejumlah penjelasan di atas mengenai fungsi komunikasi massa dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Pengawasan lingkungan. Komunikasi massa melalui pesan-pesan yang disampaikan media massa dapat membentuk kesadaran khalayak akan lingkungan sekitarnya. Informasi yang disampaikan media massa melalui saluran pemberitaan menyediakan sejumlah isu dan hal baru yang perlu diketahui oleh khalayak luas.
  2. Korelasi. Pesan-pesan media massa menghubungkan antara lembaga media massa dan khalayaknya. Informasi yang disebarkan media massa kepada khalayak mengenai berbagai hal terlebih dahulu diinterpretasi dan telah dikonstruksi oleh media.
  3. Sosialisasi. Kesesuaian informasi yang disampaikan media kepada khalayak, tergantung pada kepercayaan, nilai, dan pengalaman yang dimiliki khalayak.
  4. Hiburan. Media massa menyediakan pesan-pesan yang bersifat hiburan bagi khalayaknya untuk mengimbangi rutinitas seharihari dalam pekerjaan  dan berbagai aktivitas serius.
  5. Periklanan dan komersial. Melalui iklan yang disampaikan media massa dapat membantu khalayak dalam berbagai aktivitas ekonomi dan sosial.  




KOMUNIKASI MASSA
Dosen : Primi rohimi, S.Sos, M.S.I
Penulis : Refo Zunaedi (1840210019)
Senin, 16 Maret 2020/KPI-A4/Jam ke-1/F1

Selasa, 21 April 2020

KOMUNIKASI MASSA

BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI MASSA.
Institut Agama Islam Negeri Kudus- Komunikan Penyiaran Islam.




From Slide.info


     Komunikasi massa adalah pesan yang disampaikan oleh komunikan kepada khalayak atau massa lewat pesan. Bentuk merupakan sebuah istilah inklusif yang memiliki beberapa pengertian. Dalam seni dan perancangan, istilah bentuk seringkali dipergunakan untuk menggambarkan struktur formal sebuah pekerjaan yaitu cara dalam menyusun dan mengkoordinasi unsur-unsur dan bagian-bagian dari suatu komposisi untuk menghasilkan suatu gambaran nyata

1. Surat Kabar

     Menurut Agee, surat kabar memiliki tiga fungsi utama dan fungsi sekunder. Fungsi utama media adalah : (1) to inform (menginformasikan kepada pembaca secara objektif tentang apa yang terjadi dalam suatu komunitas, Negara dan Dunia, (2) to comment (mengomentari berita yang disampaikan dan mengembangkannya ke dalam focus berita, (3) to provide (menyediakan keperluan informasi bagi pembaca yang membutuhkan barang dan jasa melalui pemasangan iklan di media.
     Fungsi sekunder media adalah : (1) Untuk mengkampanyekan proyek-proyek yang bersifat kemasyarakatan, yang diperlukan sekali untuk membantu kondisi-kondisi tertentu, (2) memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian cerita komik, kartun dan cerita-cerita khusus, (3) melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi agen informasi dan memperjuangkan hak.
  • Fungsi Surat Kabar.
    Dari empat fungsi media massa (informasi, edukasi, hiburan, dan persuasive), fungsi yang paling menonjol pada surat kabar adalah informasi. Hal ini sesuai tujuan utama khalayak membaca surat kabar, yaitu keingintahuan akan setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Fungsi hiburan dapat ditemukan pada rubric artikel ringan, feature, komik atau kartun serta cerita bersambung. Fungsi mendidik dan mempengaruhi akan ditemukan pada artikel ilmiah, tajuk rencana atau editorial dan rubric opini. Fungsi pers bertambah, yaitu sebagai alat control sosial yang konstruktif.
  • Karakteristik Surat Kabar.
    Untuk dapat memanfaatkan media massa secara maksimal dan tercapainya tujuan komunikasi, maka seorang komunikator harus memahami kelebihan dan kekurangan media tersebut. Karakteristik surat kabar sebagai media massa mencakup : publisitas, periodisitas, universalitas, aktualitas dan terdokumentasikan.
    Untuk menyerap isi surat kabar, dituntut kemampuan intelektualitas tertentu. Khalayak yang buta huruf tidak dapat menerima pesan surat kabar begitu juga yang berpendidikan rendah.
  • Kategorisasi Surat Kabar.
    Dilihat dari ruang lingkupnya, surat kabar nasional, regional, dan local. Ditinjau dari bentuknya, ada surat kabar biasa dan tabloid. Dilihat dari bahasa yang digunakan, ada surat kabar berbahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan bahasa daerah.
2. Majalah

    Menurut Dominick, klasifikasi majalah dibagi kedalam lima kategori utama, yakni : (1) general consumer magazine (majalah konsumen umum), (2) business publication (majalah bisnis), (3) literacy reviews and academic journal (kritik sastra dan majalah ilmiah), (4) newsletter (majalah khusus terbita berkala), (5) Public Relations Magazines ( Majalah Humas).
  • Kategori Majalah.
    Tipe majalah ditentukan oleh sasaran khalayak yang dituju, artinya redaksi sudah menentukan siapa yang akan menjadi pembacanya. Kategori majalah pada masa orde baru; majalah berita, keluarga, wanita, pria, remaja wanita, remaja pria, anak-anak, ilmiah popular, umum, hukum, pertanian, humor, olahraga, daerah.
  • Fungsi Majalah.
    Fungsi majalah mengacu pada sasaran khalayak yang spesifik.
  • Karakteristik Majalah. Majalah media yang paling simple organisasinya, relative lebih mudah mengelolanya, serta tidak membutuhkan modal yang banyak. Majalah tetap dibedakan dengan surat kabar karena majalah memiliki karakteristik tersendiri : Penyajian lebih dalam, Nilai aktualitas lebih lama, Gambar/Foto lebih banyak, Cover/sampul sebagai daya Tarik.

3. Radio

    Radio adalah media elektronik tertua dan sangat luwes. Radio telah beradaptasi dengan perubahan dunia, dengan mengembangkan hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media lainnya. Keunggulan radio adalah berada dimana saja, ditempat tidur, didapur, di dalam mobil, di kantor,dan ditempat lainnya.

4. Televisi

    Televisi mengalami perkembangan secara dramatis terutama melalui pertumbuhan televise kabel. Sistem penyampaian program lebih berkembang lagi, kini sedikitnya terdapat lima metode penyampaian program televise yang telah dikembangkan : Over the air reception of network and local station program, Cable, Digital Cable, Wireless Cable, Direct Broadcast Satellite (DBS).
  • Fungsi Televisi. Memberikan informasi, menghibur dan memujuk. Tetapi fungsi menghibur lebih dominan pada media televise. Tujuan utama khalayak menonton televise adalah untuk memperoleh hiburan, selanjutnya untuk memperoleh informasi.
  • Karakteristik Televisi. Ditinjau dari stimulasi alat indera, dalam radio siaran, surat kabar dan majalah hanya satu alat indera yang mendapat stimulus, yaitu : Audiovisual, Berpikir dalam Gambar, Pengoperasian lebih Kompleks.
  • Faktor yang Diperlukan. Pesan yang akan disampaikan melalui media televise, memerlukan pertimbangan-pertimbangan lain agar pesan tersebut dapat diterima oleh khalayak sasaran. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan itu adalah pemirsa, waktu, durasi dan metode penyajian.
5. Film
    Gambar bergerak adalah bentuk dominan dari komunikasi massa. Film lebih dulu menjadi media hiburan dibanding radio siaran dan televise. Menonton televise menjadi aktivitas popular bagi orang Amerika pada tahun 1920-an sampai 1950-an. Film adalah industry bisnis yang di produksi secara kreatif dan memenuhi imajinasi orang-orang yang bertujuan memperoleh estetika.
  • Fungsi Film.
    Khalayak menonton film terutama untuk hiburan. Akan tetapi dalam film terkandung fungsi informative maupun edukatif, bahkan persuasive. Film nasional dapat digunakan sebagai media edukasi untuk pembinaan generasi muda dalam rangka nation and character building. Fungsi edukasi dapat tercapai apabila film nasional memproduksi film-film sejarah yang objektif atau film documenter dan film yang diangkat dari kehidupan sehari-hari secara berimbang.
  • Karakteristik Film.
    Faktor-Faktor yang dapat menunjukkan karakteristik film adalah layar lebar, pengambilan gambar, konsentrasi penuh dan identifikasi psikologis.
  • Jenis-Jenis Film.
    Bagi seorang komunikator adalah penting untuk mengetahui jenis-jenis film agar dapat memanfaatkan film tersebut sesuai dengan karakteristiknya. Film dapat dikelompokkan pada jenis film cerita, film berita, film documenter, dan film kartun.




KOMUNIKASI MASSA

Dosen : Primi rohimi, S.Sos, M.S.I
Penulis : Refo Zunaedi (1840210019)
Senin 09 Maret 2020/KPI-A4/Jam ke-1/F1

Sabtu, 18 April 2020

KOMUNIKASI MASSA

PROSES KOMUNIKASI MASSA
Institut Agama Islam Negeri Kudus - Komunikasi Penyiaran Islam


Slideshare.id


     Nah untuk kali ini kita akan membantu tentang Proses Komunikasi Massa. Proses produksi konten media massa berlangsung dalam suatu organisasi formal yang menghabiskan biaya sangat besar dan melibatkan orang banyak. Proses produksi dan reproduksi lembaga media massa memenuhi prinsip pembiayaan dan manajemen modern dalam perusahaan. Meskipun demikian, lembaga media massa memproduksi sesuatu yang khas, yakni berupa kemasan informasi dan hiburan yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (khalayak).

     Informasi yang diproduksi dan didistribusikan media massa bukanlah cerminan dari realitas yang hendak disampaikannya kepada khalayak. Proses produksi berita sebagai mekanisme yang berlangsung dalam ruang-ruang redaksi media massa mencakup penyeleksian atau penyaringan bahan-bahan informasi tersebut. Dalam prakteknya, proses seleksi redaksi berupa pemberian perhatian atau penonjolan, pengurangan, dan pengabaian isu-isu tertentu. Hal tersebut didasarkan pada berbagai pertimbangan, baik yang berkaitan dengan internal redaksi, maupun menyangkut faktor eksternal seperti kepentingan ekonomi (komersial) dan politik media. Berbagai media massa melaporkan isu-isu yang sama, namun memberi penonjolan dan format pemberitaannya bisa saja berbeda karena kepentingan-kepentingan lembaga media bersangkutan yang berbeda. 
Pekerja media seperti wartawan, editor, atau fotografer, menghasilkan konten media yang berpotensi mempengaruhi berbagai sisi kehidupan khalayaknya. Karena itu, para pekerja media perlu menyadari posisi mereka dalam hal relasi antara khalayak dan medianya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tetap mempertimbangkan kemaslahatan atau kemanfaatan produk atau karyanya bagi khalayak. Media massa dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan yang mulia untuk menciptakan suasana kehidupan sosial yang harmoni dan damai. Para wartawan, penulis lepas di media cetak, dan komentator televisi dan radio dapat menggunakan potensi dan keterampilannya untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan tersebut.

      Konten media yang dikonsumsi khalayak merupakan produk yang telah mengalami prosedur penyeleksian. Proses seleksi tersebut dimaksudkan untuk menyesuaikan substansi dan teknis produksi dengan kepentingan lain yang melingkupi media massa. Realitas yang sampai ke khalayak adalah realitas yang telah diseleksi dan ditentukan oleh para pekerja media. Penyajian realitas simbolik secara konstan oleh media, mengacu pada laporan penelitian Lippmann, yang menunjukkan kecenderungan hanya untuk memperjuangkan kepentingan pemilik surat kabar dalam hal ideologi yang diminatinya dan kepentingan bisnis. Gatekeeping redaksi merupakan seperangkat praktek yang kompleks untuk menjustifikasi penempatan isu di halaman depan dan besarnya ruang kolom yang diberikan terhadap isu tertentu. Mekanisme ini memungkinkan munculnya preferensi ideologis dalam menempatkan berita di halaman depan dan bentukbentuk penonjolan lainnya. Dengan demikian, media memainkan perannya dalam menata agenda dari berbagai informasi yang dapat membentuk opini publik atau prasangka sosial (Ritonga dan Iskandar, 2002: 9).

     Gatekeeping bukanlah proses yang sederhana. Hasil dari mekanisme inilah yang menerjemahkan berbagai kepentingan yang melingkupi media melalui penyajiannya. Gatekeeping redaksi adalah proses penataan agenda di dalam media. Penataan dilakukan melalui penonjolan isi media oleh redaksi, kekuatan struktur kepemilikan, struktur industri pendukung media, maupun struktur kekuasaan dan sistem politik yang melingkupinya.
Sifat proses produksi isi media yang selalu dipengaruhi aspek ruang (format pemberitaan) dan waktu (mengejar nilai aktualitas), membuat proses seleksi redaksi kerap diwarnai ketergesa-gesaan. Hal ini menimbulkan konsekuensi bagi dimensi teknis dan esensi pemberitaan yang juga akan berkonsekuensi pada nilai obyektivitas berita yang diterima khalayak. Khalayak yang heterogen ini akan menerima pesan melalui media sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, agama, usia, budaya dan sebagainya. Oleh karena itu, pesan itu akan difilter oleh khalayak yang menerimanya.
Filter utama yang dimiliki oleh khalayak adalah indera yang dipengaruhi oleh tiga kondisi, yaitu:
  1. Budaya. Pesan yang disampaikan oleh komunikator melalui media massa akan diberi arti yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang budaya khalayak.
  2. Psikologikal. Pesan yang disampaikan media akan diberi arti sesuai dengan frame of reference dan field of experience khalayak.
  3. Fisikal. Kondisi fisik seseorang baik internal maupun eksternal akan mempengaruhi khalayak dalam mempersepsi pesan media massa. Kondisi fisik internal, keadaan kesehatan seseorang. Kondisi fisik eksternal, keadaan lingkungan di sekitar komunikan ketika menerima pesan dari media massa.
     Istilah gatekeeper mengacu pada proses yang meliputi: (1) Suatu pesan berjalan melalui berbagai pintu, dan (2) Orang atau kelompok yang memungkinkan pesan lewat. Gatekeepers dapat berupa seseorang atau satu kelompok yang dilalui suatu pesan dalam perjalanannya dari sumber kepada penerima. Fungsi utama gatekeeper adalah menyaring pesan yang diterima seseorang. Gatekeeper membatasi pesan yang diterima komunikan. Editor surat kabar, majalah, dan penerbitan juga dapat disebut gatekeepers. Seorang gatekeepers dapat memilih, mengubah, bahkan menolak pesan yang disampaikan kepada penerima.

      Keputusan gatekeepers mengenai informasi yang harus dipilih atau ditolak dipengaruhi oleh beberapa variabel. Bittner (1985) mengidentifikasikan variabel-variabel tersebut sebagai berikut:
  1. Ekonomi. Kebanyakan media massa mencari keuntungan dari memasang iklan, sponsor dan kontributor yang dapat mempengaruhi seleksi berita dan editorial.
  2. Pembatasan legal. Berkaitan dengan aspek hukum atau peraturan baik yang bersifat lokal maupun nasional yang dapat mempengaruhi seleksi dan penyajian berita.
  3. Batas waktu. Deadline dapat mempengaruhi apa yang akan disiarkan
  4. Etika pribadi dan profesionalisme dari seorang gatekeepers.
  5. Kompetisi. Persaingan di antara media juga berpengaruh terhadap sebuah berita.
  6. Nilai berita. Intensitas sebuah berita dibandingkan dengan berita lainnya yang tersedia dalam ruang berita, jumlah ruang dan waktu yang diperlukan untuk menyajikan berita hendaknya diseimbangkan.
  7. Reaksi terhadap feedback tertunda.



KOMUNIKASI MASSA
Primi Rohimi, S.Sos, MSI.
Refo Zunaedi (1840210019)
Senin, 02 Maret 2020/KPI-A4/jam ke-1/F4.

Selasa, 14 April 2020

KOMUNIKASI MASSA

PENGERTIAN DAN CIRI-CIRI KOMUNIKASI MASSA
Institut Agama Islam Negeri Kudus - Komunikasi Penyiaran Islam



Image for RODA DUNIA


 A. Pengertian Komunikasi Massa.

      Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi yang melalui media massa (media cetak dan elektronik). Sebab, pada awal perkembangannya saja, komunikasi massa berasal dari pengembangan kata media of mass communication (media komunikasi massa). Sedangkan apa itu media massa sendiri, media massa adalah media saluran yang dihasilkan oleh teknologi modern seperti media elektronik (radio, televisi), media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), buku dan film.

      Ada satu definisi komunikasi massa yang dikemukakan Michael W. Gamble dan Teri Kwal Gamble (1986) akan semakin memperjelas apa itu komunikasi massa. Menurut mereka sesuatu bisa didefinisikan sebagai komunikasi massa jika mencakup beberapa hal berikut:

  1. Komunikator dalam komunikasi massa mengandalkan peralatan modern untuk menyebarluaskan atau memancarkan pesan secara cepat kepada khalayak yang luas dan tersebar.
  2. Komunikator dalam komunikasi massa dalam menyebarkan pesan-pesannya bermaksud mencoba berbagi pengertian dengan jutaan orang yang tidak saling kenal atau mengetahui satu sama lain.
  3. Pesan adalah milik publik.
  4. Sebagai sumber, komunikator massa biasanya organisasi formal seperti jaringan, ikatan, atau perkumpulan.
  5. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper (penampis informasi).
  6. Umpan balik dalam komunikasi massa sifatnya tertunda.

B. Ciri-ciri Komunikasi Massa.

  1. Komunikator dalam Komunikasi Massa Melembaga.
    Komunikator dalam komunikasi massa disini bukan satu orang saja, tetapi kumpulan beberapa orang. Artinya, gabungan antarberbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga.Didalam komunikasi massa, komunikator merupakan lembaga media massa itu sendiri. Komunikator dalam komunikasi massa merupakan lembaga karena elemen utama komunikasi massa adalah media massa.
  2. Komunikan dalam Komunikasi Massa Bersifat Heterogen.
    Komunikan dalam komunikasi massa yang sifatnya heterogen (beragam) yaitu penonton televisi beragam pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi, memiliki jabatan yang beragam, memiliki agama atau kepercayaan yang tidak sama pula.
  3. Pesannya Bersifat Umum. Pesan-pesan dalam komunikasi massa tidak ditujukan kepada satu orang atau satu kelompok masyarakat tertentu. Dengan kata lain, pesan-pesannya ditujukan pada khalayak yang plural.
  4. Komunikasi Berlangsung Satu Arah. Jadi, jika dalam komunikasi massa ada komunikasi dua arah, sebisa mungkin komunikan tersebut harus terlibat dalam proses komunikasi dua arah itu. Peristiwa ini jelas sangat berbeda dengan komunikasi tatap muka. Dalam pola komunikasi tersebut antara mereka yang terlibat dalam proses komunikasi langsung bisa mengadakan reaksi spontan. Itu artinya,komunikasinya berjalan dua arah.
  5. Massa Menimbulkan Keserempakan. Inilah salah satu ciri komunikasi massa selanjutnya. Bahwa dalam komunikasi massa ada keserempakan dalan proses penyebaran pesan-pesannya. Serempak berarti khalayak bisa menikmati media massa tersebut hampir bersamaan. Keserempakan ini sangat terasa kalau kita mengamati media komunikasi massa lain seperti internet.
  6. Komunikasi Massa Mengandalkan Peralatan Teknis. Media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada khalayaknya sangat membutuhkan bantuan peralatan teknik. Peralatan teknis yang dimaksud misalnya pemancar untuk media elektronik (mekanik atau elektronik).


KOMUNIKASI MASSA
Primi Rohimi, S.Sos, MSI.
Refo Zunaedi (1840210019)
Senin, 24 Februari 2020/KPI-A4/jam ke-1/F4.